Kamis, 25 Agustus 2016

ASTAGFIRULLAH Hati-Hati Segudang Dosa di Balik Pertanyaan ''Kapan Nikah?'' | Perindu surga

Kami tahu, kalian menanyakannya sebagai bentuk perhatian. Tetapi tolonglah, berhenti menanyakan "Kapan nikah?" atau "Kapan punya anak?", sebab kami tidak tahu jawabannya, hanya Tuhan yang tahu.



Jika hatimu sering menjerit demikian, hal yang sama dialami oleh salah satu Sahabat Vemale bernama Dini Nuris Nuraini. Tulisan Dini kali ini adalah salah satu tulisan untuk Lomba Menulis #StopTanyaKapan.

 -oOo-

A: Kapan nikah?

B: Kalau uda saatnya.

A: Kapan itu?

B: Ya nggak tau.

A: Kok nggak tau?

B: Soalnya nggak ikut nulis. Kan yang nulis Allah. Jodoh, umur, nasib semua sudah ditulis Allah tapi kita nggak tau isinya.

Saya hampir bisa memastikan kalau mereka yang bertanya “Kapan nikah” adalah orang-orang yang sudah menikah, sudah bertunangan/hampir menikah, atau setidaknya sudah punya pacar dan merasa PD akan segera menikah. Yah, memang demikian, disadari atau tidak di balik pertanyaan “Kapan nikah” ada sebentuk kesombongan. Kesombongan utama adalah “Saya sudah nikah” atau “Saya sudah punya calon”. Biasanya pertanyaan tersebut akan diikuti dengan pernyataan cepat-cepatan laku (saya sudah laku lho), lebih mudanya usia saat nikah (saya dulu umur sekian aja sudah nikah), dan pernyataan-pernyataan lain semacam “Saya langsung kenal aja sudah nikah”, “Jangan terlalu pilih-pilih”, “Jangan terlalu jual mahal”, dan sebagainya.

Ketika mereka mengatakan “Saya sudah laku” (sambil tertawa mengejek), “Saya lebih dulu laku”, “Saya aja umur sekian (lebih muda) sudah nikah” maka mereka telah sombong. Padahal, di masa lalu, mereka sama saja dengan saya, tak tahu pasti akan menikah dengan siapa, umur berapa, serta tanggal, bulan, dan tahun berapa; kenapa sekarang seakan lupa? Jodoh, nasib, dan umur sudah ditulis oleh Allah sejak zaman Azali dan hanya Allah pula yang tahu kapan waktunya. Serupa dengan pertanyaan “Kapan punya momongan?”, jawaban dari pertanyaan “Kapan nikah?” tidaklah berada di tangan manusia. Itu di luar kuasa kita. Hati-hati dengan dosa sombong karena sedikit saja ada kesombongan di diri kita maka kita tidak akan bisa mencium bau surga.

Dosa berikutnya bisa berasal dari prasangka. Namanya juga prasangka berarti si pembicara tidak tahu faktanya.

Mereka tidak tahu kan saya sudah berusaha atau belum?

Mereka juga tidak tahu kan usaha saya sudah keras atau belum?

Apalagi background di baliknya. Mana tahu mereka tentang hal-hal kompleks kenapa saya belum menikah dan apa saja yang telah saya alami. Dan benarkah mereka menikah tanpa memilih? Untuk seumur hidup lho. Kalau saya sih nggak mau. Terlalu spekulasi rasanya kalau nikah dengan calon seadanya asal ada yang mau. Saya wanita dan hanya punya

Posting Komentar